Selasa, 17 Maret 2009

MEMULIAKAN TAMU

MEMULIAKAN TAMU
Oleh : Mahmudin at-Tapusy
(Mahasiswa tingkat akhir al-Ahgaff University Tarim Hadramaut Yaman)

Perintah memuliakan tamu
- Rasulullah saw bersabda ''barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah an hari akhir makanhendaklah ia menyambung tali silaturrahmi. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik-baik saja atau hendaklah ia diam''.( riwayat bukhari dan muslim).
- Abu Syuraih khuwailid bin 'Am ia berkata: ''saya mendengar rasulullah saw bersabda: ''Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya pada saat istimewanya''. Para sahabat bertanya: ''wahai rasulullah, apakah saat istimewanya itu?, beliau bersabda: hari dan malam pertamanya, bertamu itu adlah tiga hari. Kalau lebih dari tiga hari. Maka itu adalah sedekah". (hr bukhari dan muslim). Dalam riwayat muslim dikatakan:'' seorang muslim tidak boleh tinggal di tempat saudaranya sampai menyebabkan saudaranya itu berdosa''. Para sahabat bertanya: ''wahai rasulullah, bagaimana ia sampai menyebabkan saudaranya itu berdosa?'' beliau bersabda: ''ia tinggal ditempat saudaranya, sedangkan saudaranya tidak tidak mempunyai hidangan yang bisa disuguhkan.
Hatim al-A'sam menuturkan ''Bahwa tergesa-gesa termasuk perbuatan syaitan kecuali dalam lima keadaan yaitu.'' Menyediakan makanan ketika ada tamu. Ketika ada yang meninggal, mengawinkan perawan kalau ada yang melamar, membayar utang apabila sampai tempo, bertaubat dari dosa (thabaqat as-sufiyah)
Adab dalam bertamu
Sebagai tuan rumah harus memeperhatikan beberapa hal penting diantaranya adalah, sebagiamana di jelaskan dalam buku "Minhaj al-Muslim'' karya Abu Bakar Jaabir al-Jazairy''
1. Hendaknya mengundang orang-orang saleh datang kerumahnya. Hal ini ditegaskan oleh hadis rasulullah saw, beliau bersabda "jangan kamu berteman kecuali orang yang beriman, dan janganlah makan makananmu kecuali orang yang bertaqwa (hr ahmad, abu daud dan turmuzi)
2. Janganlah hanya mengkhususkan undangan kepada orang-orang kaya saja. Rasulullah saw bersabda "Sejelek-jelek makanan adalah makanan pada walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya, dan tidak mengundang miskin (HR Muttafaq Ila'ih).
3. Tujuan mengundang mereka bukanlah sebagai kesombongan, tapi hendaknya bertujuan untuk mengikut sunat rasulullah saw dan para nabi, seperti nabi Ibrahim as (gelar beliau adalah Abu Dhifan yakni bapaknya para tamu).
4. Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja.
5. Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu selesai menikmatinya.
6. Sebagai tuan rumah hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai kedepan rumah, karena itu merupakan amalan para salaf saleh. Dan perhatian kepadanya
Adab bagi orang yang bertamu
1. Hendaknya memenuhi undangan sesuai waktu yang telah ditetepkan, kecuali ada (udzur) halangan untuk datang, seperti undangan yang menyebabkan kemudahratan baginya. Dalil tentang wajibnya mengahdiri undangan sebagaiman hadis rasulullah saw bersabda "barangsiapa yang diundang maka penuhilah!" (HR Muslim).
2. Hendaknya tidak memebeda-bedakan siapa yang mengundang, baik orang yang kaya ataupun orang yang miskin.
3. Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda hormat kepada sesama muslim. Sebagaimana hadis yang menerangkan bahwa ''semua amal tergantung niatnya, kareana setiap orang tergantung niatnya.
4. Apabila kita dalam keadaan berpuasa, maka tetap disunatkan untuk hadir. Karena menampakan kebahagian kepada muslim termasuk bagian ibadah.
5. Ketika berbicara hendaklah menjauhkan dari perkara-perkara yang dilarang. Seperti Gibah (menyebutkan kekurangan orang lain), Namimah (adu domba) dan lainnya.
6. Sebagai tamu kita dianjurkan memmbawa hadiah buat tuan rumah, karena hal ini dapat mempererat kasih sayang antara sesama muslim, rasulullah saw bersabda: ''Berilah hadiah di antara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai (HR Bukhari).
7. Setelah selesai bertamu hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada dan memaafkan segala kekurangan tuan rumah.



Hikmah ulama seputar memuliakan tamu
- Sayyidina Ali ra menuturkan "Janganlah kamu malu dengan pemberianmu yang sedikit (al-Mustadzraf)
- Imam Rawaas menuturkan "Hendaklah kalian memberi makan, hanya bertujuan karena Allah swt, bukan bertujuan untuk kemashuran ataupun agar disebut-sebut, dan tidak bertujuan mencari kedudukan, tapi tujuan utama adalah mengikut sunnat nabi Ibrahim as dan Rasulullah saw

1 komentar:

Tanbihul Ghofilin Blog mengatakan...

Artikelnya bagus banget.

Poskan Komentar